essay
Sebuah Renungan Perjalanan (belajar) Da’wah seorang Ukh
Bismillahrrohmaanirrohim
Bismillahrrohmaanirrohim
Terkadang kita merasakan kecemasan dan kegelisahan yang amat sangat, cemas akan masa depan yang tidak pasti serta gelisah dengan bertambahnya hari-hari (Semakin tua Usia). Masa depan kita (Akhirat) ditentukan oleh apa yang kita kerjakan saat ini. Dalam Al-Qur’an, jauh-jauh hari Alloh telah menjamin kebahagiaan masa depan kita dengan satu syarat tetap istiqomah dalam menghadapi kendala apapun dalam rangka menegakkan kalimatulloh di muka bumi ini, dan tetap berpegang teguh pada ajarannya dimana dan kapanpun. Firmannya : Waman A’rodo ‘An Dzikry Fainna lahuu Ma’isyatan Donka Wanahsyuruhu Yaumal-Qiyaamati A’ma (Al-Quran). Ayat tersebut menjelaskan dengan gamblang bahwa kebahagiaan seorang muslim adalah terletak pada kekuatan dzikirnya, yakni ketika dia tetap berdzikir (Menyertakan Alloh) dalam segala hal/urusannya.
Kesuksesan seorang Muslim akan di raih, hanya oleh mereka yang selalu mengedepankan/menyertakan Alloh dalam setiap langkahnya, Allohu Akbar, Allohu Akbar…Alloh Maha Besar, tanpaNya tidak ada kesuksesan. segala sesuatu dilangit & dibumi tidak akan memberi mudhorot apa-apa selama bersama dengan namaNya. Namun Syetan selalu berusaha untuk senantiasa menimbulkan keraguan di dalam diri kita, untuk senantiasa memalingkan kita dari keyakinan kepadanya sehingga melahirkan berbagai kecemasan dan kegelisahan, kesedihan atas peristiwa pahit yang menimpa kita, yang tidak pernah kita harapkan kedatangannya dalam kehidupan kita, kelemahan dalam menunaikan segala aktivitas, serta sifat pengecut dalam diri kita.
Namun kenapa hari-hari kita selalu dihantui kecemasan, kegelisahan, kesedihan, kekecewaan hanya karena kenyataan (yang dialami) sering tidak/belum sesuai dengan yang didambakan, padahal semua yang terjadi adalah semata karena kehendakNya dan merupakan bukti keMahaadilan Alloh kepada makhluknya. apa yang menurut kita indah, baik, bagus, enak, boleh jadi tidak dalam pandangan Alloh, begitupun sebaliknya apa yg jelek, pahit menurut kita boleh jadi tidak dalam pandangan Alloh , Firman Alloh swt : “asyaa Ayyakuuna Khoiron Wahua Syarrullakum, Wa’asya Ayyakuuna Syarron Wahua Khoirullakum” (QS Al-Baqoroh). Semua yang pahit ataupun manis, lapang atau sempit adalah merupakan batu ujian dari Alloh kpd makhlukNya (yang harus kita terima dengan lapang dada) untuk menguji siapa diantara kita yang paling baik amalnya (Al-Qur’an), namun kita seringkali lupa akan semua itu, kita tidak berhak protes terhadap segala ketentuan Alloh kepada kita, karena kita tidak akan ditanya tentang perbuatan Alloh kepada kita, tetapi justru kitalah yang akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita lakukan : Laayus’alu amma Yuf’alu Wahum Yus’alun (al-Qur’an).
Dari hari ke hari peristiwa datang silih berganti, dan kitapun akan dituntut pertanggungjawaban dari setiap apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu kitapun jangan melewatkan satu peristiwa pun sebagai sesuatu yang datang dan pergi begitu saja tanpa mengambil Ibroh atau hikmah didalamnya. (”Wamayyu’tal-Hikmata Faqod Uutiya Khoeron Katsiirro), karena boleh jadi terdapat banyak kebaikan di dalamnya yang belum mampu tertangkap oleh panca indra kita. Yang jelas kita harus mampu menghadapi setiap peristiwa baik itu pahit taupun manis dalam kehidupan kita, dengan sebuah senyuman yang tulus bukti keridhoan kita akan segala ketentuanNya, karena di dalamnya terkandung hikmah yang besar, walaupun secara rasional kita sering tidak dapat mengerti kenapa Alloh berbuat seperti itu kpd kita, kenapa Alloh menetapkan ketentuan ini kepada kita serta menetapkan ketentuan itu untuk orang lain padahal sebenarnya kita mengharapkan ketentuan yang dimiliki oleh orang lain tersebut, sepertinya tidak adil dan kita sering menilai bahwa itu tidak adil, padahal sesungguhnya Alloh lebih mengetahui daripada kita, dan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, sedang kita tidak mengetahui ; “Anta ta’lamu walaa a’lam wataqdiru Wala Aqdir Waanta Allaamul-Guyub Allohlah”, yang paling mengetahui segala yang gaib, bukankah begitu bunyi do’a istikhoroh yang selalu kita lantunkan setiap kita memohon petunjuk kepadanya?. Sayang, sebenarnya kita jarang menjiwai kalimat dari do’a yang kita lantunkan tersebut. Kenapa kita masih saja gelisah, cemas, kecewa, sedih, merasa diperlakukan tidak adil dengan semua ketentuan Alloh ini? Inilah yang selama ini menjadi PR bagi kita, Alloh lebih mengetahui tentang apa yang kita butuhkan.
Kadang terbersit dalam benak kita, kenapa orang lain lebih beruntung daripada kita, padahal semestinya kitalah yang berhak memetik keuntungan dan kebahagiaan itu, kitalah yang berhak menikmati hasil jerih payah dan kerja keras itu, kenapa sebuah kerja keras ini belum saja melahirkan hasil yang diharapkan seperti yang didapatkan orang lain, kenapa hanya orang lain saja yang memetik buah kerja keras itu, padahal secara matematis kita merasa sudah maksimal berusaha, berjuang atau bekerja keras. Kadang kita merasa tersiksa dan kecewa dengan hasil yang belum kita peroleh seperti halnya orang lain padahal sebuah kerja keras ini sudah mengorbankan harta, tenaga, waktu, fikiran, perasaan, dsb. Kitapun merasa tersiksa dan kecewa dengan perhargaan orang lain, Kadang kita merasakan ketidakadilan kenapa orang lain yang mendapatkan keberhasilan itu padahal kitalah yang bekerja keras, kenapa hanya orang lain yang menikmati kesuksesan itu padahal kitapun sama-sama bekerja seperti mereka, bahkan kita merasa sudah lebih keras dibanding mereka. Jangan sekali-kali perasaan khoibah (putus asa) singgah dalam benak kita dan kamus kehidupan kita, “LaTaqnatu mirrohmatiillah, Ya Robb ampuni hambamu.”
Kadang kita merasa sedih, kecewa, dengan malapetaka yang menimpa kita, sejumlah kata “kenapa” berkecamuk dalam benak kita ; kenapa kerja keras kita hanya dibalas dengan sebuah malapetaka besar yang merenggut reputasi kita, kenapa kerja keras kita hanya berbuah penderitaan bathin disebabkan fitnah seseorang dan kekeliruan orang lain, kenapa kita hanya menjadi korban kedoliman orang lain setelahnya kita bekerja keras dan berjuang. Kenapa justru diwaktu orang lain menikmati hikmah dari sebuah kerja keras, kita justru menikmatinya dengan menanggung berbagai beban penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan orang lain. Kenapa orang lain menikmati hikmah sebuah kerja keras itu berupa keuntungan dan kebahagiaan yang benar-benar real, tapi aku justru sebaliknya ; berupa penderitaan bathin yang menghanguskan sebuah reputasi yang selama beberapa tahun lamanya di bangun dengan mengorbankan segala hal kemudian hal itu hancur dalam waktu beberapa detik saja disebabkan perbuatan dan kekeliruan orang lain, “Ya Rob aku Ridho dengan segala ketentuanmu ini, aku sudah terbiasa dengan berbagai penderiataan, hinaan, kekecewaan, cemoohan orang lain kepadaku, tapi bagaimanakah aku harus berda’wah dengan Izzah yang hilang ini? Memang tidak ada yang lebih menyakitkan selain kita terhalang dari Da’wah, tidak yang lebih menyakitkan selain dari sempitnya ruang gerak dawah kita diwaktu orang lain beramai-ramai menikmati kebebasan berda’wah tanpa satu kendala seperti yang kualami ini (sebuah kendala kehilanggan izzah serta kepercayaan diri disebabkan perbuatan dan kekeliruan orang lain), “Ya Rob Tolonglah Hamba”. Kenapa harus Izzahku yang hilang sementara yang berbuat kesalahannya adalah orang lain? Kenapa Da’wah hamba harus terhalang karena kesalahan orang lain? kenapa harus hamba sendirian yang menanggung penderitaan ini, kenapa hamba terhalang dari jalan ini, kalau hamba mempunyai kesalahan pada orang lain yang tidak disadari tunjukkkan kesalahan itu pada hamba supaya hamba sadar dan dapat meminta ma’af kepada orang yang bersangkutan.
Alloh swt menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasannya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat yang tetap mengerjakan sholatnya dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bahagian tertentu dan orang yang mempercayai hari pembalasan dan takut terhadap Adab Alloh dan orang-orang yang memelihara kemaluannya dan orang-orang yang memelihara amanah/janji yg dipikulnya dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya, serta memelihara sholatnya ( QS Al-Ma’arij).
Alloh swt menjelaskan bahwa syetan akan senantiasa memunculkan keraguan pada diri kita oleh karena itu, apapun yang menimpa kita, peristiwa yang menyakitkan sekalipun semuanya harus disikapi dengan positif dan tetap yakin akan kekuasaan Alloh, karena, dan tentunya hal itu tidak menjadikan lunturnya keyakinan kita kepada Alloh swt, karena segala ketentuan adalah datang dari Alloh, bila hari ini kita merasa sedih, sakit, kecewa, tidak nyaman, bingung, serahkan semuanya kepada Alloh, karena Allohlah pemilik segala perasaan dan hanya kepadanya kita meminta perlindungan dari hati yang tidak nyaman, sedih, kecewa, bingung, cemas, dsb, agar kita terhindar dari godaan syetan., segalanya datang dari Alloh dan hanya kepadaNya segala urusan kita serahkankan.
Sesungghnya Alloh swt menilai sebuah proses bukan hasil. Al-Qur’an menyebut kata “Amal” untuk pengertian proses ini. Al-Quran mengatakan I’maalu (bekerjalah kalian) fasyayarolloohu ‘Amalakum Warosuuluhu Wal-Mu’minuun. Niscaya Alloh, rosul, dan orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu (proses). Al-Qur’an tidak mengatakan Fasyayarolloohu Najaahakum, yang artinya; kesuksesan atau keberhasilan melainkan “amalakum” yang berarti pekerjaan yakni proses. Oleh karena itu kita harus menikmati proses bukan hasil, jangan kecewa bila hasil yang didapat blm atau tidak sesuai dengan kerja keras atau proses tersebut. Boleh jadi yang menurut kita sudah maksimal adalah belum dalam pandangan Alloh, tidak usah kecewa dengan penghargaan manusia kepada kita, berharaplah penghargaan hanya dari Alloh , sebab pengetahuan manusia itu terbatas, berbeda dengan pengetahuan Alloh, oleh karena itulah manusia seringkali tidak bisa adil & bijaksana sepenuhnya dalam memandang manusia, oleh krn itu kita jangan pernah kecewa dengan penghargaan manusia kepada kita walau kita merasa sudah bekerja keras sesuai kemampuan dan mengorbankan banyak hal. Ya… kalo manusia tidak pernah memperhitungkan kerja kita, tidak pernah menghargai potensi kita dan kitapun tak pernah mendapat posisi di hatinya walau kita sudah berusaha memberikan kontribusi kepadanya, jangan sekali-kali kecewa.
Bukankah Alloh senantiasa akan menguji kesabaran dan keikhlasan kita, kalau kita kecewa hanya karena pekerjaan kita tidak pernah diperhitungkan orang lain lalu dimanakah letak keikhlasan kita yang selama ini kita bangun, kemudian kalau kita kecewa hanya karena kita tidak pernah mendapat posisi di hati orang yang pernah bekerjasama dengan kita, orang yang pernah dekat dengan kita, orang yang pernah kita bantu, lalu dimanakah letak keikhlasan dan kesabaran kita. Lalu bila kita kecewa dengan hasil kerja keras kita yang belum juga mendatangkan hasil yang memuaskan, lalu dimanakah letak kelurusan niat kita yang hanya mencari rido Alloh swt yang selama ini kita gembar-gemborkan kepada mad’u dan teman kita dan diri kita sendiri. Bila kita tidak gembira melihat keberhasilan orang lain, lalu dimanakah letak sifat syakhsyiah muslimah kita yang selama ini di bina. Bila kamu merasa lebih bagus dari orang lain, lalu dimanakah letak ahlakul-karimah (Tawadhu) yang selama ini harus menjadi sifatmu dan kepribadianmu sebagai seorang yang mengaku sedang belajar menjadi dai’ah haqiqi, betulkah kamu sudah menjadi seorang aktivis da’wah yang haqiqi bila mempertahankan sifat-sifat tadipun belum bisa, bukankah keberhasilan da’wah itu ditentukan oleh sejauhmana keagungan akhlak da’inya. Bila demikian benarkah kita ini seorang aktivis da’wah sejati?
Sebenarnya kita perlu melirik kembali pengertian sukses atau keberhasilan di dalam Islam, benarkah keberhasilan itu bila kita sudah tinggi jam terbang (da’wah), banyak pendukungnya, strategis posisinya, besar gajinya, lulus sarjananya, cepat jodohnya, mendapatkan jodoh yang sesuai harapan (subhanalloh), dan segala bentuk kemudahan lainnya. Bolehlah itu dikatakan sebagai bentuk dari sebuah kesuksesan, tapi perlu kita kaji bahwa kesuksesan yang sebenarnya tidak terhenti hanya sampai disitu, Al-Qur’an mengingatkan kepada kita tentang seorang yang sukses yakni mereka yang selamat dan terhindar dari api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga firdausNya. Dengan demikian seseorang yang telah berhasil mendapatkan posisi dan jabatan dalam kehidupannya, atau seseorang yang sudah lulus sarjananya, atau mendapat pekerjaan yang bagus gajinya besar, mendapat jodoh yang oke, dan sebagainya belum dapat dikatakan sukses karena belum dapat dipastikan apakah ia meninggal dalam keadaan di ridhoi Alloh (Syahid) atau sebaliknya, Audzubillaahi min Dzalik.
Keberhasilan itu bukan hasil yang kita peroleh di dunia melainkan sejauhmana proses kita berusaha bekerja keras dengan ikhlas, sabar, dan istiqomah, mampu bersabar (bersikap positif) tatkala menghadapi kegagalan, kesulitan atau mendapatkan sesuatu yang bertentangan dengan harapan, bersyukur dan tidak ujub tatkala meraih kesuksesan, bila seorang muslim sombong dengan keberhasilan yang diperolehnya maka itulah kegagalan yang sesungguhnya, jadi kegagalan sebenarnya adalah ketika seorang muslim sudah sombong dengan apa yang diperolehnya dan putus asa dengan yang hilang dari dirinya. Karena pada hakekatnya semuanya adalah milik Alloh, bila kita sukses itu bukanlah karena kepintaran dan kehebatan kita, melainkan karena kehebatan dan pertolongan Alloh swt, sehebat dan sepintar apapun kita tanpa pertolongan dari Alloh swt tidak akan dapat berbuat apa-apa, kekuatan hanyalah dari Alloh swt, tidak ada daya dan upaya melainkan hanya milikNya. Oleh karena itu kita tak usah merasa sombong dengan apa yang kita dapatkan karena itu semua adalah dari Alloh dan milik Alloh hanya Allohlah yang berhak sombong, dan kitapun tidak mesti putus asa dengan apa yang tidak atau belum kita peroleh atau dengan apa yang hilang dari diri kita, karena semuanya terjadi karena kehendak Alloh swt, dan kita tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun atas hal itu, lantas apa yang selama ini membuat kita sombong, dan kenapa kita mesti putus asa, toh semua yang ada di dunia ini akan hancur termasuk diri kita : “Kullu Man alaihaa Faan, wayabqooo Wajhu Robbika Dzuljalaaly Wal-Ikrom (ar-Rohmaan : 26-27)”.
Bila kita simpulkan maka ada beberapa hal yang mesti kita jadikan catatan yakni kita mesti memperlakukan sama antara yang memuji dan yang mencela, pujian dan celaan manusia tidak akan mempengaruhi pada kemadorotan, kemaslahatan dan kemuliaan kita. Disamping itu kitapun mesti mampu mengendalikan hawa nafsu kita karena itulah sebenarnya keberhasilan dan kesuksesan yang haqiqi, sebuah kesabaran ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan karena Alloh berjanji di dalam Al-Qur’an ; “inna ma’al ‘Usri yusroo, wainna ma’al ‘Usri yusroo” yang artinya “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Tidak putus asa menghadapi kegagalan, tsabat filI’tiqood billaah dan terus istiqomah ketika diuji dengan keberhasilan dan kegagalan, berdzikir ketika senang dan susah., tidak sombong dengan apa yang diperoleh dan tidak putus asa dengan apa yang hilang, ridho dengan ketentuan Alloh, menikmati proses bukan hasil, berusaha maksimal menurut Alloh, semakin bertaqorrub kepada Alloh ketika semakin bertambah beban, selalu bermuhaasabbah serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, dan senantiasa mengingat maut. Akhirnya renungan ini kita akhiri dengan beberapa firman Alloh berkenaan dengan hal-hal tadi, sebagai berikut:
“Walahul-Hukmu Wailaihi turja’un : dan baginyalah segala penentuan dan kepadanyalah kamu dikembalikan ( QS Al-Qososh :70)
“Maa Ashoba mimmushiibatin fil-Ardhi Walaa FiiAngfusikum Illa Fiikitaabimmingqobli An-Nabroahaa, Innadzalika ‘Alalloohi Yasiir : tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumidan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesunggguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh ( Al_Hadid: 22)
“LikailaTa’sau ‘Alaa Maafatakum Walaatafrohu bima Aataakum”: kami jelaskan yang demikia itu spy kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu (Al-Hadid :23)
Walloohu A’lam Bishshawaab.
Bandung 2 September 2004, Akhwat Jan 77 Tsm
Siti Hajar -Sudan, nara sumber adalah seorang ukhti alumni sastra arab iain-sunan gunung djati. (lrf)
“Walahul-Hukmu Wailaihi turja’un : dan baginyalah segala penentuan dan kepadanyalah kamu dikembalikan ( QS Al-Qososh :70)
“Maa Ashoba mimmushiibatin fil-Ardhi Walaa FiiAngfusikum Illa Fiikitaabimmingqobli An-Nabroahaa, Innadzalika ‘Alalloohi Yasiir : tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumidan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesunggguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh ( Al_Hadid: 22)
“LikailaTa’sau ‘Alaa Maafatakum Walaatafrohu bima Aataakum”: kami jelaskan yang demikia itu spy kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu (Al-Hadid :23)
Walloohu A’lam Bishshawaab.
Bandung 2 September 2004, Akhwat Jan 77 Tsm
Siti Hajar -Sudan, nara sumber adalah seorang ukhti alumni sastra arab iain-sunan gunung djati. (lrf)
