J U N D U L L O H

"Selalu, sepanjang sejarah hanya sedikit jumlah manusia pilihan, mereka adalah inti kehidupan, mereka ruh dalam pergerakan dan nafas dalam perjuangan, dan mereka adalah nahkoda perubahan, mereka itulah para prajurit Alloh ..."

Tuesday, September 21, 2004

essay

Sebuah Renungan Perjalanan (belajar) Da’wah seorang Ukh

Bismillahrrohmaanirrohim
Terkadang kita merasakan kecemasan dan kegelisahan yang amat sangat, cemas akan masa depan yang tidak pasti serta gelisah dengan bertambahnya hari-hari (Semakin tua Usia). Masa depan kita (Akhirat) ditentukan oleh apa yang kita kerjakan saat ini. Dalam Al-Qur’an, jauh-jauh hari Alloh telah menjamin kebahagiaan masa depan kita dengan satu syarat tetap istiqomah dalam menghadapi kendala apapun dalam rangka menegakkan kalimatulloh di muka bumi ini, dan tetap berpegang teguh pada ajarannya dimana dan kapanpun. Firmannya : Waman A’rodo ‘An Dzikry Fainna lahuu Ma’isyatan Donka Wanahsyuruhu Yaumal-Qiyaamati A’ma (Al-Quran). Ayat tersebut menjelaskan dengan gamblang bahwa kebahagiaan seorang muslim adalah terletak pada kekuatan dzikirnya, yakni ketika dia tetap berdzikir (Menyertakan Alloh) dalam segala hal/urusannya.
Kesuksesan seorang Muslim akan di raih, hanya oleh mereka yang selalu mengedepankan/menyertakan Alloh dalam setiap langkahnya, Allohu Akbar, Allohu Akbar…Alloh Maha Besar, tanpaNya tidak ada kesuksesan. segala sesuatu dilangit & dibumi tidak akan memberi mudhorot apa-apa selama bersama dengan namaNya. Namun Syetan selalu berusaha untuk senantiasa menimbulkan keraguan di dalam diri kita, untuk senantiasa memalingkan kita dari keyakinan kepadanya sehingga melahirkan berbagai kecemasan dan kegelisahan, kesedihan atas peristiwa pahit yang menimpa kita, yang tidak pernah kita harapkan kedatangannya dalam kehidupan kita, kelemahan dalam menunaikan segala aktivitas, serta sifat pengecut dalam diri kita.
Namun kenapa hari-hari kita selalu dihantui kecemasan, kegelisahan, kesedihan, kekecewaan hanya karena kenyataan (yang dialami) sering tidak/belum sesuai dengan yang didambakan, padahal semua yang terjadi adalah semata karena kehendakNya dan merupakan bukti keMahaadilan Alloh kepada makhluknya. apa yang menurut kita indah, baik, bagus, enak, boleh jadi tidak dalam pandangan Alloh, begitupun sebaliknya apa yg jelek, pahit menurut kita boleh jadi tidak dalam pandangan Alloh , Firman Alloh swt : “asyaa Ayyakuuna Khoiron Wahua Syarrullakum, Wa’asya Ayyakuuna Syarron Wahua Khoirullakum” (QS Al-Baqoroh). Semua yang pahit ataupun manis, lapang atau sempit adalah merupakan batu ujian dari Alloh kpd makhlukNya (yang harus kita terima dengan lapang dada) untuk menguji siapa diantara kita yang paling baik amalnya (Al-Qur’an), namun kita seringkali lupa akan semua itu, kita tidak berhak protes terhadap segala ketentuan Alloh kepada kita, karena kita tidak akan ditanya tentang perbuatan Alloh kepada kita, tetapi justru kitalah yang akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang kita lakukan : Laayus’alu amma Yuf’alu Wahum Yus’alun (al-Qur’an).
Dari hari ke hari peristiwa datang silih berganti, dan kitapun akan dituntut pertanggungjawaban dari setiap apa yang kita kerjakan. Oleh karena itu kitapun jangan melewatkan satu peristiwa pun sebagai sesuatu yang datang dan pergi begitu saja tanpa mengambil Ibroh atau hikmah didalamnya. (”Wamayyu’tal-Hikmata Faqod Uutiya Khoeron Katsiirro), karena boleh jadi terdapat banyak kebaikan di dalamnya yang belum mampu tertangkap oleh panca indra kita. Yang jelas kita harus mampu menghadapi setiap peristiwa baik itu pahit taupun manis dalam kehidupan kita, dengan sebuah senyuman yang tulus bukti keridhoan kita akan segala ketentuanNya, karena di dalamnya terkandung hikmah yang besar, walaupun secara rasional kita sering tidak dapat mengerti kenapa Alloh berbuat seperti itu kpd kita, kenapa Alloh menetapkan ketentuan ini kepada kita serta menetapkan ketentuan itu untuk orang lain padahal sebenarnya kita mengharapkan ketentuan yang dimiliki oleh orang lain tersebut, sepertinya tidak adil dan kita sering menilai bahwa itu tidak adil, padahal sesungguhnya Alloh lebih mengetahui daripada kita, dan lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita, sedang kita tidak mengetahui ; “Anta ta’lamu walaa a’lam wataqdiru Wala Aqdir Waanta Allaamul-Guyub Allohlah”, yang paling mengetahui segala yang gaib, bukankah begitu bunyi do’a istikhoroh yang selalu kita lantunkan setiap kita memohon petunjuk kepadanya?. Sayang, sebenarnya kita jarang menjiwai kalimat dari do’a yang kita lantunkan tersebut. Kenapa kita masih saja gelisah, cemas, kecewa, sedih, merasa diperlakukan tidak adil dengan semua ketentuan Alloh ini? Inilah yang selama ini menjadi PR bagi kita, Alloh lebih mengetahui tentang apa yang kita butuhkan.
Kadang terbersit dalam benak kita, kenapa orang lain lebih beruntung daripada kita, padahal semestinya kitalah yang berhak memetik keuntungan dan kebahagiaan itu, kitalah yang berhak menikmati hasil jerih payah dan kerja keras itu, kenapa sebuah kerja keras ini belum saja melahirkan hasil yang diharapkan seperti yang didapatkan orang lain, kenapa hanya orang lain saja yang memetik buah kerja keras itu, padahal secara matematis kita merasa sudah maksimal berusaha, berjuang atau bekerja keras. Kadang kita merasa tersiksa dan kecewa dengan hasil yang belum kita peroleh seperti halnya orang lain padahal sebuah kerja keras ini sudah mengorbankan harta, tenaga, waktu, fikiran, perasaan, dsb. Kitapun merasa tersiksa dan kecewa dengan perhargaan orang lain, Kadang kita merasakan ketidakadilan kenapa orang lain yang mendapatkan keberhasilan itu padahal kitalah yang bekerja keras, kenapa hanya orang lain yang menikmati kesuksesan itu padahal kitapun sama-sama bekerja seperti mereka, bahkan kita merasa sudah lebih keras dibanding mereka. Jangan sekali-kali perasaan khoibah (putus asa) singgah dalam benak kita dan kamus kehidupan kita, “LaTaqnatu mirrohmatiillah, Ya Robb ampuni hambamu.”

Kadang kita merasa sedih, kecewa, dengan malapetaka yang menimpa kita, sejumlah kata “kenapa” berkecamuk dalam benak kita ; kenapa kerja keras kita hanya dibalas dengan sebuah malapetaka besar yang merenggut reputasi kita, kenapa kerja keras kita hanya berbuah penderitaan bathin disebabkan fitnah seseorang dan kekeliruan orang lain, kenapa kita hanya menjadi korban kedoliman orang lain setelahnya kita bekerja keras dan berjuang. Kenapa justru diwaktu orang lain menikmati hikmah dari sebuah kerja keras, kita justru menikmatinya dengan menanggung berbagai beban penderitaan yang disebabkan oleh perbuatan orang lain. Kenapa orang lain menikmati hikmah sebuah kerja keras itu berupa keuntungan dan kebahagiaan yang benar-benar real, tapi aku justru sebaliknya ; berupa penderitaan bathin yang menghanguskan sebuah reputasi yang selama beberapa tahun lamanya di bangun dengan mengorbankan segala hal kemudian hal itu hancur dalam waktu beberapa detik saja disebabkan perbuatan dan kekeliruan orang lain, “Ya Rob aku Ridho dengan segala ketentuanmu ini, aku sudah terbiasa dengan berbagai penderiataan, hinaan, kekecewaan, cemoohan orang lain kepadaku, tapi bagaimanakah aku harus berda’wah dengan Izzah yang hilang ini? Memang tidak ada yang lebih menyakitkan selain kita terhalang dari Da’wah, tidak yang lebih menyakitkan selain dari sempitnya ruang gerak dawah kita diwaktu orang lain beramai-ramai menikmati kebebasan berda’wah tanpa satu kendala seperti yang kualami ini (sebuah kendala kehilanggan izzah serta kepercayaan diri disebabkan perbuatan dan kekeliruan orang lain), “Ya Rob Tolonglah Hamba”. Kenapa harus Izzahku yang hilang sementara yang berbuat kesalahannya adalah orang lain? Kenapa Da’wah hamba harus terhalang karena kesalahan orang lain? kenapa harus hamba sendirian yang menanggung penderitaan ini, kenapa hamba terhalang dari jalan ini, kalau hamba mempunyai kesalahan pada orang lain yang tidak disadari tunjukkkan kesalahan itu pada hamba supaya hamba sadar dan dapat meminta ma’af kepada orang yang bersangkutan.

Alloh swt menjelaskan di dalam Al-Qur’an bahwasannya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat yang tetap mengerjakan sholatnya dan orang-orang yang di dalam hartanya tersedia bahagian tertentu dan orang yang mempercayai hari pembalasan dan takut terhadap Adab Alloh dan orang-orang yang memelihara kemaluannya dan orang-orang yang memelihara amanah/janji yg dipikulnya dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya, serta memelihara sholatnya ( QS Al-Ma’arij).
Alloh swt menjelaskan bahwa syetan akan senantiasa memunculkan keraguan pada diri kita oleh karena itu, apapun yang menimpa kita, peristiwa yang menyakitkan sekalipun semuanya harus disikapi dengan positif dan tetap yakin akan kekuasaan Alloh, karena, dan tentunya hal itu tidak menjadikan lunturnya keyakinan kita kepada Alloh swt, karena segala ketentuan adalah datang dari Alloh, bila hari ini kita merasa sedih, sakit, kecewa, tidak nyaman, bingung, serahkan semuanya kepada Alloh, karena Allohlah pemilik segala perasaan dan hanya kepadanya kita meminta perlindungan dari hati yang tidak nyaman, sedih, kecewa, bingung, cemas, dsb, agar kita terhindar dari godaan syetan., segalanya datang dari Alloh dan hanya kepadaNya segala urusan kita serahkankan.
Sesungghnya Alloh swt menilai sebuah proses bukan hasil. Al-Qur’an menyebut kata “Amal” untuk pengertian proses ini. Al-Quran mengatakan I’maalu (bekerjalah kalian) fasyayarolloohu ‘Amalakum Warosuuluhu Wal-Mu’minuun. Niscaya Alloh, rosul, dan orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu (proses). Al-Qur’an tidak mengatakan Fasyayarolloohu Najaahakum, yang artinya; kesuksesan atau keberhasilan melainkan “amalakum” yang berarti pekerjaan yakni proses. Oleh karena itu kita harus menikmati proses bukan hasil, jangan kecewa bila hasil yang didapat blm atau tidak sesuai dengan kerja keras atau proses tersebut. Boleh jadi yang menurut kita sudah maksimal adalah belum dalam pandangan Alloh, tidak usah kecewa dengan penghargaan manusia kepada kita, berharaplah penghargaan hanya dari Alloh , sebab pengetahuan manusia itu terbatas, berbeda dengan pengetahuan Alloh, oleh karena itulah manusia seringkali tidak bisa adil & bijaksana sepenuhnya dalam memandang manusia, oleh krn itu kita jangan pernah kecewa dengan penghargaan manusia kepada kita walau kita merasa sudah bekerja keras sesuai kemampuan dan mengorbankan banyak hal. Ya… kalo manusia tidak pernah memperhitungkan kerja kita, tidak pernah menghargai potensi kita dan kitapun tak pernah mendapat posisi di hatinya walau kita sudah berusaha memberikan kontribusi kepadanya, jangan sekali-kali kecewa.
Bukankah Alloh senantiasa akan menguji kesabaran dan keikhlasan kita, kalau kita kecewa hanya karena pekerjaan kita tidak pernah diperhitungkan orang lain lalu dimanakah letak keikhlasan kita yang selama ini kita bangun, kemudian kalau kita kecewa hanya karena kita tidak pernah mendapat posisi di hati orang yang pernah bekerjasama dengan kita, orang yang pernah dekat dengan kita, orang yang pernah kita bantu, lalu dimanakah letak keikhlasan dan kesabaran kita. Lalu bila kita kecewa dengan hasil kerja keras kita yang belum juga mendatangkan hasil yang memuaskan, lalu dimanakah letak kelurusan niat kita yang hanya mencari rido Alloh swt yang selama ini kita gembar-gemborkan kepada mad’u dan teman kita dan diri kita sendiri. Bila kita tidak gembira melihat keberhasilan orang lain, lalu dimanakah letak sifat syakhsyiah muslimah kita yang selama ini di bina. Bila kamu merasa lebih bagus dari orang lain, lalu dimanakah letak ahlakul-karimah (Tawadhu) yang selama ini harus menjadi sifatmu dan kepribadianmu sebagai seorang yang mengaku sedang belajar menjadi dai’ah haqiqi, betulkah kamu sudah menjadi seorang aktivis da’wah yang haqiqi bila mempertahankan sifat-sifat tadipun belum bisa, bukankah keberhasilan da’wah itu ditentukan oleh sejauhmana keagungan akhlak da’inya. Bila demikian benarkah kita ini seorang aktivis da’wah sejati?
Sebenarnya kita perlu melirik kembali pengertian sukses atau keberhasilan di dalam Islam, benarkah keberhasilan itu bila kita sudah tinggi jam terbang (da’wah), banyak pendukungnya, strategis posisinya, besar gajinya, lulus sarjananya, cepat jodohnya, mendapatkan jodoh yang sesuai harapan (subhanalloh), dan segala bentuk kemudahan lainnya. Bolehlah itu dikatakan sebagai bentuk dari sebuah kesuksesan, tapi perlu kita kaji bahwa kesuksesan yang sebenarnya tidak terhenti hanya sampai disitu, Al-Qur’an mengingatkan kepada kita tentang seorang yang sukses yakni mereka yang selamat dan terhindar dari api neraka dan dimasukkan ke dalam syurga firdausNya. Dengan demikian seseorang yang telah berhasil mendapatkan posisi dan jabatan dalam kehidupannya, atau seseorang yang sudah lulus sarjananya, atau mendapat pekerjaan yang bagus gajinya besar, mendapat jodoh yang oke, dan sebagainya belum dapat dikatakan sukses karena belum dapat dipastikan apakah ia meninggal dalam keadaan di ridhoi Alloh (Syahid) atau sebaliknya, Audzubillaahi min Dzalik.
Keberhasilan itu bukan hasil yang kita peroleh di dunia melainkan sejauhmana proses kita berusaha bekerja keras dengan ikhlas, sabar, dan istiqomah, mampu bersabar (bersikap positif) tatkala menghadapi kegagalan, kesulitan atau mendapatkan sesuatu yang bertentangan dengan harapan, bersyukur dan tidak ujub tatkala meraih kesuksesan, bila seorang muslim sombong dengan keberhasilan yang diperolehnya maka itulah kegagalan yang sesungguhnya, jadi kegagalan sebenarnya adalah ketika seorang muslim sudah sombong dengan apa yang diperolehnya dan putus asa dengan yang hilang dari dirinya. Karena pada hakekatnya semuanya adalah milik Alloh, bila kita sukses itu bukanlah karena kepintaran dan kehebatan kita, melainkan karena kehebatan dan pertolongan Alloh swt, sehebat dan sepintar apapun kita tanpa pertolongan dari Alloh swt tidak akan dapat berbuat apa-apa, kekuatan hanyalah dari Alloh swt, tidak ada daya dan upaya melainkan hanya milikNya. Oleh karena itu kita tak usah merasa sombong dengan apa yang kita dapatkan karena itu semua adalah dari Alloh dan milik Alloh hanya Allohlah yang berhak sombong, dan kitapun tidak mesti putus asa dengan apa yang tidak atau belum kita peroleh atau dengan apa yang hilang dari diri kita, karena semuanya terjadi karena kehendak Alloh swt, dan kita tidak mempunyai kekuasaan sedikitpun atas hal itu, lantas apa yang selama ini membuat kita sombong, dan kenapa kita mesti putus asa, toh semua yang ada di dunia ini akan hancur termasuk diri kita : “Kullu Man alaihaa Faan, wayabqooo Wajhu Robbika Dzuljalaaly Wal-Ikrom (ar-Rohmaan : 26-27)”.
Bila kita simpulkan maka ada beberapa hal yang mesti kita jadikan catatan yakni kita mesti memperlakukan sama antara yang memuji dan yang mencela, pujian dan celaan manusia tidak akan mempengaruhi pada kemadorotan, kemaslahatan dan kemuliaan kita. Disamping itu kitapun mesti mampu mengendalikan hawa nafsu kita karena itulah sebenarnya keberhasilan dan kesuksesan yang haqiqi, sebuah kesabaran ketika menghadapi kegagalan dan kesulitan karena Alloh berjanji di dalam Al-Qur’an ; “inna ma’al ‘Usri yusroo, wainna ma’al ‘Usri yusroo” yang artinya “sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan”. Tidak putus asa menghadapi kegagalan, tsabat filI’tiqood billaah dan terus istiqomah ketika diuji dengan keberhasilan dan kegagalan, berdzikir ketika senang dan susah., tidak sombong dengan apa yang diperoleh dan tidak putus asa dengan apa yang hilang, ridho dengan ketentuan Alloh, menikmati proses bukan hasil, berusaha maksimal menurut Alloh, semakin bertaqorrub kepada Alloh ketika semakin bertambah beban, selalu bermuhaasabbah serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat, dan senantiasa mengingat maut. Akhirnya renungan ini kita akhiri dengan beberapa firman Alloh berkenaan dengan hal-hal tadi, sebagai berikut:

“Walahul-Hukmu Wailaihi turja’un : dan baginyalah segala penentuan dan kepadanyalah kamu dikembalikan ( QS Al-Qososh :70)

“Maa Ashoba mimmushiibatin fil-Ardhi Walaa FiiAngfusikum Illa Fiikitaabimmingqobli An-Nabroahaa, Innadzalika ‘Alalloohi Yasiir : tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumidan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauh Mahfudz) sebelum kami menciptakannya. Sesunggguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh ( Al_Hadid: 22)

“LikailaTa’sau ‘Alaa Maafatakum Walaatafrohu bima Aataakum”: kami jelaskan yang demikia itu spy kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikannya kepadamu (Al-Hadid :23)
Walloohu A’lam Bishshawaab.

Bandung 2 September 2004, Akhwat Jan 77 Tsm
Siti Hajar -Sudan, nara sumber adalah seorang ukhti alumni sastra arab iain-sunan gunung djati. (lrf)

Friday, September 17, 2004

Tsaqofah


MARHALAH MADANIYAH
Peletakan Ass-asas Masyarakat Islam

Dalam Siroh Nabawiyah secara gamblang di paparkan bahwa peletakan dasar pertama pembangunan Islam dan terbentuknya Daarul Islam di muka bumi ini adalah diawali dengan hijrahnya Rasululloh SAW ke Yastrib yang jatuh pada hari Jum’at tahun ke-3 kenabian 12 Rabi’ul Awwal 1 H atau 27 September 622 M. Sekaligus peristiwa itu juga merupakan moment besar tercetusnya pernyataan berdirinya Negara Islam di bawah pimpinan langsung Rasulullah SAW. Rasulullah mulai meletakan asas-asas masyarakat Islam yang agung, sebuah masyarakat yang sejak lama telah ditunggu oleh sejarah.
Masyarakat Islam yang madhani adalah masyrakat yang senantiasa didamba oleh massa dan sejarah kehidupan peradaban dunia. Semua itu akan tercapai bila komponen dasar dalam pembangunan masyarakat dapat di wujudkan secara konsekwen dan kesungguhan, seperti hal apa yang dikisahkan dalam sejarah kenabian. Diantaranya komponen-komponen pembentukan ini menyangkut pembangunan asas-asas Islam seperti :

1. Pembangunan Masjid Nabawi
Dikisahkan bahwa unta tunggangan Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat, maka Rasululloh SAW memerintahkan agar di tempat tersebut dibangun sebuah masjid. Saat itu kiblat dihadapkan ke Baitul Maqdis. Tiangnya terbuat dari kurma, dindingnya terbuat dari batu bata dan tanah, atapnya dibuat dari pelepah dan kaum kurma. Sedang lantainya terbuat dari kerikil dan pasir.
Diantara urgensi masjid dalam masyarakat dan negara Islam adalah :
1. Terbentuknya masyarakat muslim yang kokoh dan rapih dengan komitmen terhadap system, aqidah dan tatanan Islam.
2. Tersebarnya Ukhuwah dan mahabbah
3. Tersebarnya semangat persamaan dan keadilan sesame muslim segala aspek kehidupan
4. Terpadunya berbagai latar belakang kaum muslimin dalam segala aspek kehidupan
5. Terpadunya berbagai latar belakang kaum muslimin dalam segala aspek kehidupan
6. Terpadunya berbagai latar belakang kaum muslimin dalam suatu kesatuan yang kokoh, diikat oleh tali ALloh SWT (hukum dan syari’atNya).

2. Persaudaraan antara Kaum Muhajirin dan Anshar
Rasululloh SAW mempersaudarakan kaum muslimin yang berjumlah 90 orang di rumah Anas bin Malik, atas dasar tolong menolong. Mereka saling memberikan hak waris, seangkan kaum kerabatnya tidak menerima hak tersebut. Setelah turun surat Al-Anfal :75 pada saat perang Badr, maka ketentuan tersebut tidak berlaku lagi. Ma’na persaudaraan ini seperti yang dikatakan Muh. Al Ghazali yaitu lenyapnya fanatisme kesukuan dan golongan, semangat pengabdian hanya kepada Islam, runtuhnya semua bentuk perbedaan, dan maju mundurnya seseorang hanya tergantung pada kepribadiannya sendiri dan ketakwaannya kepada Alloh SWT. Beberapa urgensi lain adalah :
Syarat mutlak bagi berdirinya sebuah Negara, adanya kesatuan dan dukungan ummatnya yang lahir dari adanya ukhuwah dan mahabbah dengan dasar aqidah Islamiyah.
Tercipta sosok masyarakat yang adil dan sejahtera dengan prinsip saling tolong menolong, mendukung serta teraplikasikan sesuai dengan prinsip keadilan dan persamaan.
Syi’ar ukhuwah ini bukanlah sekedar ucapan saja, tapi merupakan kenyataan yang terlihat dalam realita kehidupan. Ukhuwah adalah tenggung jawab yang harus dipikul bersama-sama, karena ia merupakan persaudaraan yang didasarkan pada ikatan Islam dan kesatuan aqidah
.

3. Perjanijian antara Kaum Muslimin dan Non Muslim
Ada tiga golongan manusia di Madinah. Kaum muslimin, orang-orang Arab (kaum Musyirikin), dan orang-orang Yahudi (Bani Nadhir, Bani Quraizhah, dan Bani Qainuqo’). Rasululloh SAW melakukan satu kesepakatan dengan mereka untuk terjaminnya sebuah kemanan dan kedamaian. Juga untuk melahirkan sebuah suasana saling membantu dan toleransi antar golongan tersebut. Dari peristiwa tersebut ada beberapa ibroh yang perlu kita ambil :
bahwa dustur yang dibuat oleh Rasululloh SAW merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Islam sejak berdirinya tegak berdasarkan asas perudang-undangan yang sempurna serta ditopang oleh perangkat manajemen yang diperlukan setiap Negara manapun.
dustur tersebut menunjukan bahwa Islam adalah satu-satunya faktor yang dapat menghimpun kesatuan kaum muslimin dan menjadikan mereka satu ummat.
di antara cirri khas terpenting dari masyarakat Islam adalah tumbuhnya nilai solidaritas serta jiwa senasib dan sepenanggungan antar kaum muslimin.
hakim yang adil bagi kaum muslimin dalam segala perselisihan dan urusan mereka hanyalah Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Demikian beberapa hukum yang terkandung dalam dustur tersebut yang menjadi dasar bagi tegaknya Negara Islam di Madinah, dan minhaj bagi kaum muslimin dalam kehidupan mereka sebagai masyarakat baru.Dengan pelaksanaan dustur tersebut dan dengan berpedoman kepada pasal-pasal yang termaktub di dalamnya serta berpegang teguh kepada hokum-hukumnya, tegaklah Negara Islam di atas asas dan pilar yang sangat kokoh. Kemudian Negara Islam ini berkembang meluas ke Barat dan Timur dengan membawa peradaban dan budaya yang benar kepada umat manusia. Suatu peradaban dan kebudayaan yang mengagumkan yang sebelumnya tidak pernah disaksikan umat manusia sepanjang sejarah. Wallohu’alam…

Thursday, August 19, 2004

Kajian_Talim

Menangis Menurut Sunnah Rasul SAW

Rasulullah SAW bersabda “Dua mata yang tidak akan terkena api neraka yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga dijalan Allah”

Rasulullah SAW bersabda. “Tiga mata yang tidak akan terbakar api neraka untuk selamanya : Mata Yang menangis karena takut kepada Allah, Mata yang berjaga dimalam hari karena membaca kitab Allah, dan mata yang berjaga-jaga membela agama Allah.”
Disamping penjelasan tentang hakikat menangis, Rasul SAW juga sebagai tauladan yang mutlak bagi semua umatnya dalam segala hal, termasuk dalam menangis karena Rabbnya. Beliau terbukti sering menangis baik sedang berada ditempat sepi ataupun didepan orang banyak, baik sewaktu membaca, atau mendengar ayat ayat al Quran sebagaimana dalam riwayat di bawah ini :

1. Menangis karena membaca Al Qur'an
Dari Ibnu Umar RA (hai Aisyah!) beritahu kami tentang apa yang paling mengagumkanmu dari yang kamu liat pada Rasulullah SAW, maka ia menangis dan berkata: semua tingkah lakunya selalu mengagumkan. Pada suatu malam beliau datang kepadaku hingga bersentuhan kulitnya dengan kulitku, kemudian beliau bersabda: perkenankan aku menyembah Rabbku Azza wa Jalla, maka aku berkata: demi Allah sungguh aku sangat senang engkau berada didekatku, dan aku juga sangat senang engkau menyembah Rabbmu. Maka beliau berdiri untuk mengambil air wudlu dalam gariba, dan beliau tidak banyak menggunakan air kemudian beliau melakukan shalat, maka menangis hingga air matanya membasahi jenggotnya, kemudian sujud, maka menangis hingga air matanya membasahi lantai, kemudian beliau berbaring dan terus menangis hingga tiba waktu shubuh terdengar suara Bilal. Aisyah berkata: Bilal berkata: “hai Rasulullah apa yang membuat engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni semua dosamu yang terdahulu atau pun yang akhir”. Aduhai Bilal! Bagaimana aku tidak menangis sedangkan pada malam ini telah turun kepadaku inna fii khalqissamawat …. . Kemudian beliau bersabda: sungguh rugi orang yang membacanya tanpa disertai dengan tafakkur.


Menangis Menurut Al Qur'an

Semua praktek ibadah akan dinilai benar selama berdasarkan petunjuk Al Quran dan sunnah Nabi. Menangis termasuk ibadah bila dilandaskan kepada Al Quran dan Sunnah Nabi, yaitu menangis yang terjadi semata mata karena takut kepada Allah.
Al Quran mempertanyakan keimanan orang yang tidak pernah menangis ketika mendengar ayat ayat Allah. Sebagaimana tercantum dalam firman Nya :

“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan itu ?. Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis ? Sedang kamu melengahkannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.”
Menurut ayat di atas, orang yang tidak mau menangis dengan ayat Allah adalah orang yang lalai. Karena itu orang yang tidak diragukan ketakwaan dan keta'atannya kepada Allah senantiasa mudah meneteskan air mata ketika mendengar Allah berfiman. Terutama bila ayat yang dibacanya adalah yang berhubungan dengan teguran seperti ayat di atas tadi.

Dari Abi Hurairah RA dia berkata : ketika turun ayat afamin hadzal haditsi ... menangislah para shahabat (ahli shuffah) hingga mengalirlah air mata mereka membasahi pipi, dan ketika Rasulullah mendengar tangisan mereka, beliaupun menangis bersama mereka, maka kamipun menangis karena (terdorong oleh) tangisannya. Beliau bersabda : “tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah dan tidak akan masuk surga orang yang terus menerus berbuat dosa. Sekiranya kamu tidak berdosa pasti Allah akan mendatangkan orang orang yang berdosa kemudian Dia mengampuni mereka.”
Memperhatikan hadits ini jelas sekali bahwa menangis karena takut neraka adalah akhlak Rasul dan para shahabat. Dan orang yang tidak mau menangis tidak berarti tidak ada yang ditangisi atau tidak berdosa melainkan termasuk golongan yang terus menerus berbuat dosa. Dan Allah menyediakan ampunan bukan bagi orang yang tidak berdosa, karena setiap manusia pasti berbuat dosa , akan tetapi Dia sediakan ampunan bagi orang yang suka menangisi dosa. Bila seseorang tidak mau menangisi dosa, hal ini sama artinya dengan memeliharanya. Karena itu mereka akan dijauhkan dari surga. Karena Allah sediakan surga bagi orang yang bertaubat.
Allah SWT telah memberi kepada setiap manusia kemampuan untuk menangis dan tertawa. Keduanya adalah amanat yang mesti dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Dan kebanyakan manusia lebih banyak tertawa dibanding dengan menangis. Bahkan mereka berusaha untuk membuat buat ketawa. Sebagaimana mereka dapat berbuat untuk membikin tertawa orang lain, maka sebagian mereka juga dapat berbuat sesuatu untuk membikin orang lain menangis. Sekiranya hal ini kita lakukan untuk kepentingan hari akhirat, pasti kita akan banyak menangis dan jarang tertawa selama didunia ini. Dan sekiranya hal ini tidak dilakukan, maka kita akan banyak menangis nanti di akhirat, karena itu Allah mengingatkan dengan firman Nya:


“Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.”

Ada seorang hamba yang berkata: “saya tidak menangis karena saya bukan orang yang emosional melainkan saya adalah orang yang banyak berfikir”. Penyataan ini bila ditinjau dengan kacamata Islam sangat perlu diperbaiki, karena berlawanan dengan kandungan hadits Rasul yang menegaskan bahwa semakin luas wawasan seseorang dan mendalam ilmunya pasti akan banyak menangis dan jarang tertawa.

Dari Abdillah bin Amr, ia berkata : Rasulullah bersabda : “sekiranya kamu mengetahui apa yang aku ketahui pasti kamu banyak menangis dan jarang tertawa, sekiranya kamu mengetahui apa yang kuketahui pasti ada diantara kamu yang bersujud hingga patah tulang rusuknya, dan pasti berteriak menangis hingga habis suaranya. Menangislah kamu kepada Allah, apabila kamu tidak bisa menangis, maka usahakan sampai mampu.
Menurut hadits ini orang yang susah menangis karena takut kepada Allah adalah orang yang tidak berilmu. Dan semakin mendalam dan luasnya ilmu seseorang tentang Islam maka akan semakin sering menangis. Karena itu bila kita susah menangisi dosa berarti kita sedang berada dalam kegelapan, karena berada dalam kegelapan, kesalahan pribadi pun tidak diketahui. Mudah mudahan Allah mengampuni kita dan memasukkan kita kedalam golongan yang tercantum dalam firman-Nya :

“Sesungguhnya orang orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata : ‘Maha Suci Tuhan kami; Sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi. Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis, dan mereka bertambah khusyu’.”
Menangis yang bernilai ibadah adalah menangis yang melibatkan semua unsur manusia yang meliputi akal fikiran yang diisi dengan ilmu, qalbu yang diisi dengan keimanan, dan seluruh anggota badan termasuk kepala dengan sujudnya, lisan dengan membaca istighfar, tasbih, tahmid dan ungkapan dzikir lainnya. Dan tidak kalah pentingnya tetesan air mata yang membanjiri wajah hingga membasahi tempat sujudnya yang akan menjadi saksi nanti di akhirat.
Ada seseorang yang merasa cukup dengan menangis dalam hati saja dan menganggap bahwa menangis dengan meneteskan air mata tidak diperlukan, karena sikap cengeng itu tidaklah baik. Sikap seperti ini tidak keliru bila diterapkan pada situasi sedang menghadapi musuh Allah yang menuntut semua hamba untuk berjiwa besar dan menjaga wibawa kaum muslimin demi terpeliharanya kemuliaan Islam. Akan tetapi lain halnya ketika kita sedang berhadapan dengan Yang Mulia dan Maha Perkasa. Semua hamba harus menunjukkan kerendahan dirinya dengan penuh kesadaran sebagai hamba yang hina tak berdaya yang menyadari akan banyaknya dosa dan sering lalai akan perintah yang turun dari Dzat Yang Maha Bijaksana, dan pada saat yang sama kita harus menyadari bahwa kita tidak lama lagi akan disidang didepan Pengadilan Yang Maha Tinggi. Dan untuk meningkatkan kesadaran ini diperlukan dengan segera mengingat ingat kehidupan para nabi dan shalihin. Mereka adalah orang pinter dan cerdas dalam memahami kehidupan ummat, disamping mereka juga adalah pejuang yang tidak pernah mengenal takut kepada siapapun. Namun demikian, mereka adalah manusia manusia yang sangat cengeng ketika sedang merintih kepada Yang Maha Adil dan Maha Kuasa. Demikian Allah menjelaskan dalam firman Nya :

“Apabila dibacakan kepada mereka ayat ayat Yang Maha Pemurah, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”
Ayat di atas menjelaskan sifat sifat para Nabi dan para pengikutnya dengan kata sujadan (ahli sujud) dan bukiyyan (ahli menangis).
Kata bukiyyan adalah shighah mubalaghah (bentuk kata yang mempunyai makna sangat) dari kata bakiina yang merupakan kata sifat bagi orang orang yang suka menangis. Hal ini menggambarkan bahwa tangisan tersebut melebihi dari tangisan yang biasa terjadi pada masyarakat umum yang tangisannya karena urusan dunia.
Makna menangis yang dimaksud dalam ayat akan lebih jelas lagi bila kita perhatikan hadits Rasul SAW di bawah ini.

MENANGIS KARENA ALLAH
Disarikan dari Ceramah Ta'lim Maqab
Ust. Saiful Islam Mubarak, Lc.M.Ag


Allah menghendaki kehidupan manusia senantiasa mengalami berbagai perubahan antara senang dan sedih, suka dan duka, sehat dan sakit, lapang dan sempit, harap dan takut, tertawa dan menangis. Semua ini adalah aturan Allah yang bermanfaat bagi setiap mukmin demi meningkatkan ketakwaan, dan menjadi bencana bagi yang tidak beriman akibat tidak sadar bahwa semua itu adalah bekal yang sangat bermanfaat bagi peningkatan derajat dalam kehidupan. Karena itu, semua kondisi yang dihadapi manusia tidak terlepas dari salah satu diantara dua nilai, yaitu positif dan negatif atau benar dan salah, baik menurut pandangan manusia atau pun pandangan Yang Maha Kuasa. Seseorang dapat meningkatkan keimanannya dengan menjalin ukhuwwah Islamiyah yang sering dihiasi dengan senyuman dan juga dapat meningkatkan taqarrub kepada Rabbnya dengan sering menangis karena menyadari akan kelalaian dalam melaksanakan kewajiban dimasa lalu, dan menangis karena takut akan kekeliruan dalam memahami dan salah mengamalkan ajaran llahi yang mesti dita'atinya demi keselamatan dan kemaslahatan dimasa mendatang.
Menangis adalah kebiasaan dan akhlaq para nabi dan shalihin. Namun tentu bukan sekedar menangis, melainkan menangis yang membuktikan penghambaan diri yang muncul dari kesadaran yang sangat mendalam. Sadar bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah, yang selalu memerlukan pertolongan yang Maha Kuat namun sering lalai terhadap aturan-Nya, hamba yang sangat bodoh tapi sering menyombongkan diri dengan ilmu yang sangat sedikit, hamba yang tidak memiliki apa apa tapi berlaga sombong seakan akan apa yang ada dalam dirinya adalah miliknya, baik berupa jasad, kesehatan, harta, jabatan atau lainnya, padahal semua itu adalah amanat yang mesti dipertanggung jawabkan pada saat yang tidak lama lagi akan tiba. Para nabi menangis karena melihat ummat yang sedang menderita kebejadan akhlaq dan penyimpangan aqidah serta kerusakan pemahaman terhadap syari'ah yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Para ulama sering menangis karena khawatir tidak dapat melanjutkan perjuangan Rasul akibat beratnya tantangan dan kurangnya kemampuan serta meluasnya kema'siatan.
Bila dibacakan kepada mereka ayat Allah yang berisi perintah, mereka menyadari belum dapat melaksanakan perintah sebagaimana mestinya. Sebaliknya, bila dibacakan ayat yang mengandung larangan, mereka selalu ingat akan semua perbuatan yang menurut pandangan manusia tidak termasuk pelanggaran, padahal boleh jadi di hadapan Allah merupakan pelanggaran yang sering kali dilakukan tanpa disadari. Bila dibacakan ayat ayat tentang kenikmatan surga, terbayanglah orang lain sedang menikmatinya, sementara dirinya sedang dalam penderitaan, menonton dari kejauhan apa yang dinikmati ahli surga, karena menyadari belum beramal sebagaimana mestinya yang memenuhi kriteria untuk menjadi muttaqin shalihin. Bila sudah melaksanakan sebagian perintah Nya, mereka khawatir kalau amalnya yang sedikit tidak diterima Allah, karena dari mana dapat diketahui kalau amaInya diterima Allah. Bila dia sudah bertaubat, dari mana diketahui bahwa taubatnya memenuhi syarat untuk diterima di hadapan Allah.
Semakin tinggi ketakwaan seseorang maka semakin mudah baginya mengetahui kesalahan dan kelalaian dirinya dan semakin menyadari bahwa dirinya masih jauh untuk mencapai tingkat muttaqin. Karenanya, ketakutan kepada Allah akan semakin meningkat, demikian pula harapan akan ampunan semakin bertambah.
(Lrf)

Sunday, August 15, 2004

Bilik Fotografi

1.Fotografi Komersial
Fotografi komersial adalah cabang dari fotografi profesional, lebih banyak bekerja untuk memenuhi kebutuhan industri dalam periklanan, penjualan, peragaan, untuk kebutuhan pada suatu obyek media massa ataupun publikasi khusus tajam.

2.Eksposur
Eksposur secara teknis diartikan sebagai hasil dari intensitas cahaya serat berapa banyak waktu yang clibutuhkan selama cahaya itu beraksi. Dalam praktek fotografi, eksposur adalah kombinasi dari kecepatan rana clan bukaan diafragma yang
dipilih agar menclapatkan negatif yang diinginkan. Sesuatu gambar clikatakan under eksposed apabila gambar tersebut tidak memiliki cletil di daerah shadow(bagian paling gelap yang masih memili ki," deiiI ) sedangkan over eksposed apabila
ticlak memiliki detil di daerah ~highlights (bagian paling terangyang masih 66Miliki cletil) sehingga terlihat seperti terbakar.
3.MablilRelease
Yaitu suatu al~tiaffi'bahan/aksesori berupa kabel yang dihubungkan dengan kamera, dipakai untuk membuka rana tanpa harus memencet tombol rana. Dalam perkembangannya alat ini sekarang bisa dipakai meskipun kita menggunakan bulb (fasilitas ada kamera yang memungkinkan kita untuk membuka rana selama yang kita inginkan).
4.Ruang Tajam
Sewaktu kita memfokus pada obyek tertentu agar gambar yang terlihat tajam, maka ada obyek lain yang berada lebih dekat a.taupun lebih jauh dari obyek yang kita fokus terlihat kurang tajam. Penurunan ketajaman berlangsung secara gradual clan diantara obyek yang kita fokus terclapat wilayah dimana gambar ticlak kabur, atau bisa clikatakan tajam, wilayah inilah yang dinamakan ruang ruang tajam. Bila keseluruhan gambar pada jendela bidik sernua tajam berarti ketajaman ruang luas, sementara apabila yang tajam hanya obyek yang kita fokus berarti ketajaman ruang sempit.

5. Ruang Fokus
Ketika Anda memfokuskan kamera tertentu, ada satu posisi dimana gambar terlihat palingKetajaman ini berubah sewaktu kita memundurkan atau memajukan cincin fokus. Tetapi ada kisaran fokus (sangat seclikit) dimana obyek menurut pandangan mata ticlak mampu membeclakan antara yang paling tajam clan seclikit kabur, inilah yang dinamakan ruang fokus. (WEP)

Asal Usul
Ticlak Banyak yang tahu, bahwa ide penciptaan Minilab yang di saat baru lahir disebut "One Hour Photo Service" itu adalah berkat jawatan kereta api Jepang. Konon di awal tahun 80 an terjacli kernerosotan jumlah penumpang yang cukup mengkuatirkan bagi perusahaan bersangkutan. Suatu saat, salah seorang eksekutif menyoclorkan gagasan untuk membangun kios kios foto di setiap mulut stasiun, yang menawarkan agar film film hasil pernotretan para penumpang diserahkan pagi hari sebelum mereka bekerja, clan hasilnya bisa dimabil saat mereka pulang kantor. Ternyata ticlak sampai satu bulan ratusan toko foto clitinggalkan oleh pelanggannya. Mereka pun ramai ramai memprotes kerja sampingan Jawatan Kereta Api Nasional tersebut. Namun atas clasar legalitas, secara hukum mereka sah sah saja untuk mempertahankan haknya, apalagi bila diingat jumlah stasiun di Jepang tak kurang dari 5300 buah. Kemudian ide cernerlang JKA itu diaclopsi oleh pabrik pabrik, mesin kantor clan inclustri fotografi. Tak lama kemudian lahirlah mesin mesin cuci cetak foto yang ticlak perlu serah pagi, selesai sore, promosi yang lebih canggih mereka canangkan: serahkan saja film Anda sebelum belanja, sambil pulang Anda bisa mampir lagi untuk mengambil hasilnya. Maka sejak saat itulah minilab minilab mulai merajalela di seluruh jagat. (LN PI)

Bilik Tauji

Nasehat Untuk Para Penguasa

Pada hari diselenggarakan baiat Khalifah Al-Manshur di zaman Abbasyiah, semua rakyatnya merasa gembira dengan naiknya seorang wajah baru dalam pemerintahan Islam. Pada hari itu telah datang ke tempat itu seorang ahli fiqh yang terkenal berani dan tegas berbicara, yaitu Mutaqil.
Al-MAnshur mengamati Mutaqil dengan seksama. Lalu ia berkata, “Demi ALloh, dimana ada Muqatil disana akan timbul kekeruhan.”
Sesudah Mutaqil susuk di tempatnya, Al-manshur berkata kepadanya, “Ya Mutaqil, tolong nasehati aku.”
Mutaqil menjawab, “BAiklah ya AMirul Mukminin. Nasehat apa yang Anda minta, nasehat dengan apa yang kau lihat atau nasehat apa yang kau dengan?”
“nasehatilah aku dengan apa yang kau lihat, ya Mutaqil, “kata Al-Munshur.
Mutaqil mulai berkisah :
“Pada waktu Khalifah Umar bin Abdul Aziz meninggal dunia, beliau meninggalakan 11 anak lelaki dan mewariskan 18 dinar. Dinar itu digunakan 11 anak lelaki dan mewariskan 18 dinar. Dinar itu digunakan untuk membeli kafan (4 dinar), untuk membeli kuburan (5 dinar), dan sisanya baru dibagi-bagikan kepada ahli warisnya.
Pada suatu ketika, Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya orang tentang anak-anaknya. Beliau menjawab, “Anak-anakku itu salah satu dari dua. Bisa seorang taqwa yang senantiasa mendapat pengayoman Alloh dan memberinya jalan keluar, atau bisa juga sebagai para pembangkang yang membuat aku enggan meninggalkan sesuatu yang bisa digunakannya untuk lebih mudah dan lebih mudah dan lebih berani membangkang kepada Alloh.
Pada suatu hari Abdul Aziz ingin memberikan wakaf lahan untuk kaum muslimin. Ketika salah seorang putranya mendengar berita itu, ia langsung menghadap ayahnya. Pada waktu itu Umar bin Abdul Aziz sedang istirahat. KArena itulah ajudannya tidak mengijinkan siapa pun menemui dan mengganggu beliau. Katanya, “apakah anda tidak tahu kalau khalifah sedang istirahat di siang hari seterik ini?”.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz mendengar pembicaraan antara putranya dan ajudannya itu, maka beliau segera mengijinkan anaknya masuk. Setelah bertatapan muka anaknya berkata kepadanya, “Wahai ayah, aku mendengar ayah akan mewakafkan lahan untuk kaum muslimin. “Khalifah Ummar menjawab, “Ya, benar. InsyaAlloh besok akan kuwakafkan tanah itu.”
Akan tetapi putranya segera berkata, “Apakah ayah yakin besok pagi, apakah tidak lebih baik kalau niat yang luhur itu dilaksanakan hari ini juga?!”
Demikianlah, rasa taqwa Khalifah Ummar bin Abdul Aziz telah diwariskan kepada putranya semasa hidupnya.
Pada suatu hari Amirul Mukminin mengumpulkan putra-putrinya. Ia berkata, “Wahai putra-putriku sayang, aku ingin meninggalkan warisan yang banyak kepada kalian supaya kalian hidup berkecukupan dan bergelimang dalam kenikmatan. Akan tetapi, aku yakin kalian tidak akan ridho bergelimang dalam kenikmatan, sedangkan ayah kalian dipertanggungjawabkan di hadapan pengadilan Alloh kelak atas semua yang ditinggalkan untuk anak-anaknya.
Demikianlah kisah Khalifah Amirul Mukminin bin Abdul Aziz. Beliau tidak mengamankan putra-putrinya dengan harta, pangkat, rumah, dan lahan pertanian. Akan tetapi, mengamankan dengan memakmurkan kalbu mereka dengan bertaqwa kepada Alloh.

Friday, August 13, 2004

Pena Seorang Jundi

SANG HERO SUUL KHOTIMAH

Ada kalanya seseorang merasa bangga dengan perbuatan baik yang telah dikerjakannya. Seakan-akan ia berjaya selamanya bersama kebaikannya itu. Padahal, bagi seorang muslim sikap tawadhu’ dan rendah hati, haruskah selalu melekat, meskipun tampaknya ia telah berbuat kebaikan untuk Islam.
Seorang muslim yang baik tidak akan menyanjung-nyanjung dirinya lantaran telah banyak berjasa atau meremehkan orang lain yang dipandang kurang berperan. Dia akan menyadari bahwa selama nyawa belum meregang dari kerongkongan, perjuangan belum lagi selesai. Masih banyak kemungkinan yang bakal terjadi. Termasuk, kemungkinan untuk berbuat dosa yang fatal.
Sebuah kisah ketika perang Khaibar meletus patut untuk kita renungkan. Hari pertama pertempuran berjalan sengit. Orang-orang Yahudi Khaibar memang menderita kerugian, namun mereka belum kalah. Perbentengan Khaibar yang terkenal tangguh memiliki benteng yang berlapis-lapis. Bila sebuah benteng jatuh, mereka akan pindah ke benteng yang lain.
Selepas pertempuran berkumpulah tentara kaum muslimin di sekitar perkemahan mereka. Begitu pula lasykar Kafirin Yahudi telah kembali ke induk pasukan mereka. Saat itu, tatkala melepas lelah, terjadi perbincangan diseputar jalannya pertempuran. Tiba-tiba salah seorang sahabat menyebut seorang yang sepanjang pertempuran memperlihatkan ketangguhannya. Ia bergerak kesana kemari dengan lincahnya. Menebas batang leher musuh hingga bertumbangan. Ia menjadi “bintang” pertempuran hari itu, hingga seorang sahabat lainnya berkata: “Hari ini tiada seorang pun sehebat si Fulan!”.
Mendengar pujian tersebut, tiba-tiba Rasulullah bersabda: “Ingatlah! Dia seorang ahli neraka!”. Orang orang terkejut. Hampir tak percaya mendengar komentar Nabi SAW.
Maka seorang sahabat yang penasaran berkata: “Saya akan menyelidiki keadaanya!”. Pada pertempuran berikutnya, ia senantiasa menguntit sang “Hero” yang diramalkan masuk ke neraka oleh Nabi SAW. Itu. Di tengah-tengah pertempurannya, ia pun menyaksikan betapa hebatnya orang tersebut bertempur. Ia mengikutinya terus. Ketika “Sang pahlawan” berlari, ia pun berlari. Ketika berhenti, ia pun berhenti.
Tatkala pasukan berkumpul kembali tersiarlah bahwa orang yang disebut Nabi akan masuk neraka itu mati. Orang-orang menyampaikannya kepada Nabi: Ya Rasulullah! Orang yang tuan katakan masuk neraka itu telah mengakhiri pertempuran dengan hebat!”. Nabi SAW menyahut: “Ia menuju ke neraka!”. Mendengar keterangan Nabi SAW itu, orang-orang hampir ragu menanggapinya. Dalam kebingungan itu datanglah berita dari orang yang menguntitnya. Ia menyatakan bahwa sebelum meninggal sang “Hero” terluka parah. Luka parah itu menimbulkan penderitaan tak tertahankan. Lalu, ia meletakan pedangnya di tanah. Bagian tajamnya diletakan antara kedua teteknya (ditengah dada) lalu ditekannya hingga pedang tersebut membelah dadanya. Ia mati bunuh diri.
Mendengar cerita tersebut Nabi saw bersabda : “ sesungguhya ada kalanya, seseorang berbuat amal ahli surga pada lahirnya (yang terlihat) padahal ia ahli neraka. Dan adakalanya seorang mengerjakan amal ahli neraka dalam pandangan orang, padahal ia ahli surga!”.
Na’udzubillah! Tapi itulah kenyataannya, amal seseorang ditentukan oleh bagaimana ia mengakhirinya. Inilah yang disebut Suul Khotimah (akhir yang jelek). Kematian yang amat merugi yang mengantarkannya kepada kemurkaan Allah.
Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim”. (Q.S. Ali Imran: 102)
Perintah tersebut menunjukan bahwa seorang muslim harus senantiasa menjaga keislaman mereka sepanjang hayat. Dengan kata lain, seorang muslim harus menjaga keistiqomahan imannya.
Masa depan bagi kita bagaikan sesuatu yang masih digelapi kabut tebal. Kita tidak tahu ada apa dibalik bayang-bayang putih itu. Hanya sebuah jalan lurus yang mudah ditelusuri dan ditempuh, ataukah sebuah bukit yang kokoh lagi cadas yang akan manghempaskan kita? Atau, sebuah jurang yang dalam siap menelan tubuh kita?
Apalagi jika kita simak kondisi musuh Islam saat ini. Seiring dengan kemajuan teknologi, maju pula siasat yang mereka gunakan untuk menghancurkan agama Allah ini. Orang-orang kafir yang menghendaki pudarnya cahaya Allah di muka bumi ini, membuat berbagai rintangan untuk menghancurkan cita suci kaum muslimin. Rintangan yang paling halus sampai yang paling kasar.
Sanggupkah kita menghadapi jerat-jerat seperti itu? Kenyataan sering menunjukan tak jarang seseorang terjerumus kedalamnya, padahal selama ini ia terkenal sebagai seorang yang alim lagi istiqomah. Tiba-tiba ia berbalik menyerang Islam, tiada bersimpati lagi kepada perjuangan Islam atau malah sinis terhadap semua yang berbau penegakkan ajaran Islam yang murni. Ia terbujuk rayuan. Diantara mereka berkhianat lantaran tak kuat menanggung derita serta siksa yang diazabkan musuh-musuh kepadanya.
Layaklah jika Allah membekali seorang muslim dengan do’a :
“Ya, Rabb kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau tersalah, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagai mana engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tak sanggup memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkau penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Q.S. 2 : 286)
Sebagai seorang kader dakwah, tentu kita semua berharap peran yang kita mainkan dalam upaya meninggikan kalimat Allah ini berkekalan hingga akhir hidup kita nanti. Kita dapat meraih husnul khotimah. Kita berharap semoga dalam tubuh kita mengalir jiwa hanif bukan kefasikan, jiwa tawadhu’ bukan takabur, sehingga kita tidak akan termasuk ke dalam golongan celaka sebagaimana yang diserukan Bilal atas perintah Rasulullah SAW: “Sesungguhnya tidak dapat masuk surga kecuali jiwa yang benar-benar tunduk patuh (nafsul muslimah). Dan sungguh Allah akan membantu agama ini dengan perjuangan seorang fajir!” perjuangan sang fajir ialah perjuangan sang “Hero” yang mati dengan bunuh diri itu! Wallahu A’lam bishawab. (Lrf, sb- Ats-Shobat-Paap)